Indonesia Mengajar: Menyebar Ilmu ke Pelosok Negeri

Berbuatlah sesuatu yang bermanfaat buat masyarakat semasa hidupmu. Dengan demikian kelak akan dikenang. Sepenggal kata bijak itulah mungkin yang ada di benak para pemuda – pemudi yang tergabung dalam gerakan Indonesia Mengajar.
Sejumlah pemuda dan pemudi itu menuju daerah-daerah terpencil di pelosok indonesia untuk mengabdi sebagai guru atau pengajar. Dan, tentu saja banyak cerita menarik dari para guru muda itu mengingat mereka sebagian besar berasal dari kota besar.

Salah satu pengajaar muda yang tampil di Kick Andy kali ini adalah Patrya Pratama. Pemuda kelahiran kota Bandung 24 tahun lalu itu berhasil lolos seleksi masuk ke dalam Gerakan Indonesia Mengajar yang digagas Anies Baswedan, salah satu tokoh pendidikan di Indonesia. Ia ditempatkan di Desa Labuangkallo, Paser, Kalimantan Timur.
“Saya jarang mandi di sana, karena air bersih sangat sulit”, ujar Patrya Pratama. Di desa Labuangkallo ini air menjadi sulit karena letaknya yang hampir 100 persen berada di atas laut. Selain langka air bersih, Fasilitas penerangan listrik juga tidak ada. “Tantangan selama saya mengajaar di Paser adalah melawan anggapan penduduk setempat yang tidak peduli dengan pendidikan. Yang penting bagi warga setempat adalah menjadi nelayan,” kata Patrya alumni Fisip Universitas Indonesia itu yang mengaku pernah dipukul salah satu orangtua siswa karena ada salah paham.

Sementara Agus Rachmanto, salah satu pengajar muda ditempatkan di SD Negeri 4 Titi Akar, Dusun Desa Samak, Pulau Rupat, Bengkalis, Riau. Pemuda bertubuh mungil alumni Fisipol, UGM itu harus mengajar di lingkungan masyarakat Suku Akit yang dikenal masih banyak menganut ilmu hitam yaitu santet.
“Terus terang pertama kali di tempatkan di desa ini saya gemetar. Tak hanya itu, di dusun Hutan Samak yang terisolasi dan tidak ada fasilitas listrik juga sempat membuat saya stress dan bosan kata pemuda asal Kebumen, Jawa Tengah berusia 26 tahun itu. Namun, Agus mengaku mengajar anak-anak yang terbelakang di Pulau Rupat itu dengan rasa cinta.

Barangkali yang dilakukan Ayu Kartika Dewi ini hampir tidak masuk diakal. Gadis berusia 28 tahun itu terpaksa meninggalkan pekerjaannya yang nyaman di Singapura “hanya” untuk menuruti kata hatinya untuk bergabung dalam gerakan Indonesia Mengajar. Ayu yang alumni Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga, Surabaya itu mendapat tugas mengajar di SDN Papaloang, Kecamatan Bacan Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara.

Menurut Ayu, ia begitu mencintai dunia pendidikan anak-anak. Ia mengaku begitu total ketika mengajar anak-anak di Halmahera Selatan. “Sampai sekarang saya masih teringat kepada murid-muridku di sana. Aku benar-benar sangat emosional kalau mengenang hubunganku dengan anak-anak muridku,” ujar gadis yang banyak memperoleh penghargaan selama karirnya itu. Salah satu pengalaman menarik selama mengajar di sana adalah ketika Ayu menjelaskan kepada anak-anak tentang pentingnya kerukunan antar agama. Karena sebelumnya, anak-anak muridnya itu beranggapan bahwa agama yang terbaik adalah agama tertentu.

Gerakan Indonesia Mengajar yang digagas Anies Baswedan itu kini sudah memasuki angkatan ke tiga. Pesertanya adalah pemuda-pemudi Indonesia yang telah lulus seleksi dan ditempatkan sebagai pengajar muda di seluruh pelosok Indonesia yang masih kekurangan tenaga pendidik. Mereka harus mengajar dan berinteraksi dengan masyarakat setempat kurang lebih selama satu tahun.

Source: http://www.kickandy.com

Menggagas Peningkatan Mutu Pendidikan

Perkembangan kebijakan pendidikan di Indonesia tidak lepas dari sejarah berdirinya pendidikan di Indonesia. Pada 1607, VOC mendirikan sekolah pertama di Ambon dan pada 1940 jumlah anak pribumi yang memasuki sekolah mencapai 2.200.000 orang.

Namun, saat pemerintahan Jepang memegang kendali, jumlah anak Indonesia yang berusia sekolah, kemudian mengikuti pendidikan, kian sedikit. Ditambah lagi mutu pendidikan yang tersedia juga makin merosot. Tentu, pada zaman kemerdekaan semangat pemerintah dan rakyat masih sangat tinggi untuk membangun pendidikan, namun potensi dan kemampuan terbatas, sehingga pendidikan dilaksanakan tanpa komitmen mutu. Pada gilirannya, hal ini terlihat pada program Wajib Belajar 6 Tahun dan Wajib Belajar 9 Tahun yang masih mengabaikan mutu pendidikan karena masih menitikberatkan pada pertumbuhan kuantitatif.

Setelah sukses melaksanakan program Wajib Belajar 6 Tahun dengan pencapaian angka partisipasi kasar (APK) yang tinggi, pencapaian APK untuk SLTP yang sudah mencapai angkat 74% terpaksa melorot, demikian juga dalam hal mutu yang makin melorot. Mutu pendidikan di Indonesia sangat tertinggal dari negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, bahkan Thailand.

Lahirnya Undang-Undang (UU) No 20 Tahun 1999 yang memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk menyelenggarakan pendidikan, merupakan tonggak baru penyelenggaraan pendidikan. Dengan undang-undang ini kebijakan pendidikan berubah, yang tadinya otoritas penyelenggaraan pendidikan berada di tangan pemerintah pusat, sekarang otoritas tersebut berada di tangan pemerintah daerah.

Namun, penyerahan wewenang pengelolaan pendidikan ke daerah belum menjawab tuntutan peningkatan mutu pendidikan. Menurut United Nations Development Programme (UNDP), indikator HDI dapat menjadi patokan, yaitu longevity (kesehatan, tingkat harapan hidup), knowledge (pendidikan, melek huruf orang dewasa dan perbandingan penerimaan siswa), dan decent standard of living (pendapatan per kapita) dan pada ketiga indikator itu Indonesia masih jauh tertinggal. ***

Menyadari rendahnya mutu pendidikan dan pentingnya upaya peningkatan mutu pendidikan, penulis tertarik membuat analisis kebijakan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Menteri Pendidikan Nasional) dan undang-undang yang mendasarinya pada rentang waktu 1988-2004.

Permasalahan pendidikan yang dihadapi Pemerintah Indonesia memang sangat kompleks. Selain menyediakan pendidikan bagi penduduk usia belajar yang jumlahnya begitu besar, kita menghadapi perubahan dan perkembangan teknologi dan informasi yang begitu deras, yang tidak diimbangi peningkatan mutu sumber daya pembelajaran, termasuk dalam hal peningkatan mutu guru, kurikulum, alat pembelajaran, dan lainnya.

Ketertinggalan dalam hal mutu sumber daya pembelajaran ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah. Melihat kompleksnya isu pendidikan yang dihadapi pada Abad- 21 ini dan yang sedang dihadapi Indonesia saat ini, diperlukan kajian terhadap sistem pendidikan di Indonesia beserta kebijakan yang mendukungnya.

Kebijakan pemerintah yang perlu dikaji adalah kebijakan dalam bentuk undang-undang, peraturan pemerintah, keputusan menteri, serta keputusan direktur jenderal. Banyak permasalahan pendidikan yang dapat diidentifikasi dari masalah yang disebabkan oleh kebijakan pendidikan yang ada, termasuk isu-isu pendidikan yang berkembang.

Kelemahan peningkatan pendidikan yang telah dilaksanakan pada periode 1988-2004 terletak dari sudut pandang pengelolaan pendidikan. Pendidikan membutuhkan proses yang panjang, bukan hanya target-target instan yang tak akan bertahan dalam jangka panjang. Tujuan pendidikan yang terdapat dalam undang-undang tidak dapat dilaksanakan dengan sudut pandang pragmatis atau realistis.

Mutu pendidikan di Indonesia tidak akan dapat melampaui mutu pendidikan negara lain, atau tujuan pendidikan nasional tidak akan dapat dicapai tanpa perencanaan jangka panjang dan jangka menengah yang berkesinambungan. ***

Tujuan pendidikan yang demikian ideal selama ini tidak pernah dengan sungguh-sungguh diterjemahkan secara operasional. Kurikulum yang dirancang dan dilaksanakan secara relevan, efisien, dan efektif akan mampu mendukung terlaksananya fungsi pendidikan nasional untuk mencerdaskan bangsa dan memajukan budaya nasional. Peningkatan mutu pendidikan dari segi pelayanan pembelajaran belum disentuh.

Pergantian era kepemimpinan menteri pendidikan tidak mampu membawa peningkatan pelayanan pendidikan yang bermuara pada peningkatan mutu. Rasio siswa dalam satu kelas tidak pernah menurun. Rasio siswa dari jenjang SD hingga SMA masih di atas 25 orang, bahkan di tingkat SMP dan SMA berada pada kisaran 40 orang. Angka ini masih jauh dari tuntutan penyediaan pendidikan yang berkualitas.

Sekalipun pemerintah telah lama melakukan perluasan pendidikan, ternyata tidak berhasil menaikkan rasio siswa dalam satu kelas. Peningkatan mutu pendidikan dari segi input siswa. Tanpa kesehatan, nutrisi yang cukup, ketekunan, kehadiran yang tetap, dan dukungan rumah, kegiatan pembelajaran di kelas tidak akan efektif. Siswa harus mampu bertahan mengikuti pembelajaran selama jam pelajaran, sehingga harus didukung oleh nutrisi yang cukup.

Dari segi proses, peningkatan mutu pendidikan belum berjalan baik karena para guru dan tenaga pengajar lain masih lebih banyak berpendidikan di bawah S-1. Kebijakan penyelenggaraan pendidikan yang dilakukan selama ini masih dalam taraf meningkatkan kompetensi guru hingga D-2. Hal ini terjadi khususnya di jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Dari segi mutu output pendidikan didapati bahwa selama ini tidak ada kriteria kelulusan berdasarkan hasil ujian, sehingga hampir semua peserta ujian memperoleh predikat tamat dan dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan selanjutnya. Dengan mengambil batas nilai 5,5 (asumsi) sebagai kriteria minimal kelulusan, berarti hanya 36,79% siswa SLTP yang lulus, sisanya memperoleh predikat tamat belajar. Dari paparan akademis, tingkat penguasaan materi pada umumnya sangat memprihatinkan. ***

Pada 2003 telah lahir UU No 20/2003 tentang Pendidikan Nasional. Undang-undang ini memang telah lebih komprehensif dan jelas menyatakan tentang standardisasi pendidikan dan peningkatan mutu. Namun karena operasionalisasi undang-undang ini memerlukan peraturan pemerintah, dan peraturan itu hingga 2004 belum selesai dibuat, maka keputusan menteri pendidikan nasional belum mengacu kepada undang-undang tersebut.

Dengan demikian, tuntutan peningkatan mutu pendidikan dan penerapan standar mutu penyelenggaraan pendidikan yang dinyatakan oleh UU tersebut belum dapat direalisasikan pada periode 1999-2004. Dalam kata lain, periode 1988- 2004, relevansi content peningkatan mutu pendidikan dalam kebijakan pendidikan dalam bentuk keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan (1988-1999) dan keputusan menteri pendidikan nasional (1999- 2004) tergolong rendah.

Dalam hal ini kebijakan pendidikan yang ada belum mampu meningkatkan mutu pendidikan menembus pencapaian jangka pendek (output pendidikan) dan pencapaian jangka panjang (outcome pendidikan), apalagi mengungguli pencapaian mutu pendidikan negara tetangga.

Peningkatan mutu pendidikan selama ini masih belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Rendahnya mutu pendidikan ini disebabkan oleh banyak hal, antara lain mutu dan distribusi guru yang masih belum memadai, kurangnya sarana dan prasarana pendidikan, kurikulum yang kurang sesuai, lingkungan belajar di sekolah maupun dalam keluarga dan masyarakat belum mendukung.(*)

DR Syahril Chaniago
Staf Departemen Pendidikan Nasional

Source: http://www.okezone.com

Bukti SMK Bisa, Indonesia Bisa

Selama ini SMK dianggap sebagai sekolah menengah strata kedua dalam masyarakat Indonesia. Siswa yang bersekolah di SMK dianggap orang “buangan” dengan berbagai penafsiran yang tidak lebih baik dari siswa SMA. Dapat dilihat dari jumlah peminat SMK yang jauh lebih sedikit dibandingkan SMA.

Padahal orientasi profil sumber daya manusia (SDM) lulusan SMK dan SMA sudah jelas berbeda. SMK lebih menitikberatkan profil lulusan yang terampil dan siap bekerja. Sehingga bobot muatan pendidikan pun lebih banyak praktik di luar kelas dibandingkan teori di dalam kelas. Tak heran pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, gencar mengampanyekan SMK dengan berbagai program yang ada, seperti program SMK Bisa! Hal ini dilakukan untuk memenuhi pos-pos lowongan pekerjaan yang membutuhkan profil lulusan SMK.

Kini terjawab sudah keraguan akan lulusan SMK dengan munculnya karya-karya mereka. Diawali mobil Kiat Esemka, hasil karya tangan siswa SMK di Solo, yang langsung disambut apresiasi Pemkot Solo. Dan dengan sekejap menjadi perhatian publik di awal tahun naga ini.

Tak mau ketinggalan, berbagai daerah turut serta memamerkan karya nyata siswa SMK di masing-masing daerah. Seperti LCD dan mesin pengolah limbah karya siswa SMK di Bogor, sampai pesawat karya siswa SMK di Bandung.

Walupun banyak produk yang masih terhambat perizinan sehingga belum dapat digunakan, diproduksi massal, ataupun dipasarkan, berbagai karya nyata siswa SMK membuktikan bahwa Indonesia pun bisa memproduksi sendiri produk-produk yang dibutuhkan masyarakat. Tak hanya otomotif, boleh jadi di berbagai bidang.

Saat ini baru mobil kiat Esemka yang namanya mencuat oleh karena peran cepat pemkot Solo dalam membranding karya tersebut. Inilah yang akan menjadi pekerjaan rumah besar pemerintah pusat untuk menindaklanjutinya. Jangan sampai menguap hanya beberapa waktu.

Dengan berbagai potensi Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah dan SDM yang cerdas, bukan tidak mungkin kebangkitan produk Tanah Air segera tiba dan memasyarakat. Sehingga, akan terwujud negara Indonesia sebagai produsen, bukan konsumen seperti yang selama ini terjadi. Dahulu pun negara Jepang harus tertatih-tatih mewujudkan kualitas produksi dalam negerinya hingga bisa mencapai kesuksesan seperti sekarang.

Source: http://www.kampus.okezone.com

Program RSBI Gagal Total?

JAKARTA-Proyek besar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk mencetak sekolah bertaraf internasional (SBI) patut dipertanyakan. Betapa tidak, sejak program rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) diluncurkan pada 2005, hingga kini tak ada satu pun sekolah yang berhasil lolos penilaian menjadi SBI.

Berdasar evaluasi (Kemendikbud), seluruh RSBI di negeri ini belum layak menjadi SBI! Jumlah RSBI di seluruh tanah air mencapai 1.305 sekolah. Terdiri atas level SD, SMP, SMA, dan SMK. Ironisnya, tak satu pun RSBI yang digadang-gadang menjadi SBI itu lolos dalam penilaian.

Kondisi tersebut kontras dengan strategi awal pencanangan program. Waktu itu dirumuskan bahwa sekolah berlabel RSBI hanya cukup berjalan tiga tahun untuk level SD. Artinya, setelah tiga tahun, RSBI level SD itu bisa dinilai layak atau tidak menjadi SBI. Kenyataannya, hingga enam tahun berlalu, tidak ada SD yang layak menjadi SBI.

Penilaian untuk level SMP adalah empat tahun dan untuk SMA dan SMK lima tahun. Semua pun gagal total. Mengapa?

Plt Dirjen Pendidikan Dasar (Dikdas) Kemendikbud Suyanto menjelaskan, salah satu faktor utama kegagalan itu adalah sumber daya manusia (SDM). Yakni, minimnya komposisi guru berjenjang strata dua (S-2) di sekolah-sekolah RSBI tersebut. Padahal, itu merupakan salah satu syarat utama untuk menjadi SBI.

Untuk level SD, jika ingin naik tingkat menjadi SBI, sebuah RSBI harus memiliki minimal 10 persen guru S-2. Syarat untuk level SMP, SMA, dan SMK lebih berat. SMP RSBI, misalnya, harus memiliki 20 persen guru S-2. Untuk SMA dan SMK, syarat itu ditingkatkan menjadi 30 persen.

Faktanya, tidak ada RSBI yang berhasil memenuhi ketentuan tersebut. “Ketentuan komposisi itu masih belum terwujud di RSBI mana pun,” ungkap Suyanto di Jakarta kemarin (3/1). Hampir di seluruh RSBI di negeri ini, pendidik yang tamatan S-2 hanya kepala sekolah.

Tidak berkembangnya jumlah guru bergelar magister di RSBI itu disoroti Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI). Ketua Umum PB PGRI Sulistyo menilai, hal tersebut adalah aneh. “Padahal, kementerian (Kemendikbud, Red) memiliki program bantuan peningkatan kualifikasi pendidikan,” ujarnya.

Usut punya usut, duit untuk program bantuan peningkatan kualifikasi peningkatan pendidikan guru itu tidak terserap optimal. “Mendikbud mengatakan serapan bantuan masih 50 persen,” tuturnya.

Minimnya serapan uang bantuan untuk peningkatan kualifikasi pendidikan tersebut disebabkan amburadulnya data guru. Baik yang bersedia meneken kontrak untuk kuliah S-2 maupun yang sedang menempuh pendidikan S-2.

Sulistyo memuji sejumlah daerah yang berinisiatif merotasi guru-guru di sekolah RSBI. “Jadi, guru-guru yang lulus S-2 digeser ke sekolah RSBI,” katanya.

Di tengah amburadulnya program RSBI, sempat muncul desakan untuk mengubah lagi program itu menjadi SSN (sekolah standar nasional). Usul tersebut semakin kuat ketika cap RSBI di masyarakat sebagai sekolah berbiaya mahal kian melekat.

Menanggapi fenomena tersebut, Suyanto menilai kurang bijak. Menurut dia, lebih baik mendampingi RSBI yang sudah ada saat ini. “Kita dampingi dan kita dorong terus untuk bisa menjadi SBI,” tegasnya.

Dia menyatakan, sementara ini RSBI bisa menghemat pengeluaran devisa negara. Sebab, RSBI bisa menekan orang-orang untuk menyekolahkan anaknya ke luar negeri.

Upaya pemerintah saat ini adalah berfokus untuk meningkatkan kualitas RSBI. Di antaranya, menggenjot kualifikasi para pendidik. Karena itu, Kemendikbud menyetop sementara atau menjalankan kebijakan moratorium usul RSBI baru.

Terkait dengan tudingan bahwa RSBI mahal, Suyanto tidak membantah. Namun, hal itu tidak terjadi di semua RSBI. “RSBI yang mahal itu hanya di Jakarta,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, ada daerah-daerah yang menjalankan program RSBI dengan baik. “Contohnya, Surabaya. Ada aturan yang menggratiskan siswa miskin untuk belajar di RSBI,” tuturnya.

Suyanto optimistis program RSBI akan sukses menelurkan SBI. Sebab, hal itu merupakan amanat pasal 50 ayat 3 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Dalam regulasi tersebut dinyatakan, pemerintah dan atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan di semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan bertaraf internasional. “Kami tidak ingin SBI nanti hanya gagah-gagahan,” ucap Suyanto.

Source: http://www.balikpapanpos.co.id

Pendidikan Antikorupsi dalam Keluarga

Bangsa ini mesti bersatu melawan korupsi. Untuk mem­berantas korupsi tidak saja dilakukan melalui penegakan hukum, akan tetapi perlu dilakukan upaya preventif berupa pendidikan tentang pemberantasan dan gawatnya korupsi itu sendiri. Semua itu mesti didukung oleh semua lapisan masyarakat.

Pendidikan antikorupsi juga mesti dilakukan di tingkat keluarga. Sebab keluarga me­rupakan lembaga pen­didikan pertama yang dialami dan diterima oleh setiap manusia. Untuk itu, pembentukan ke­pribadian paling efektif dila­kukan di tingkat keluarga.

Dalam perspektif Islam ditegaskan: jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (Qs. At-Tahrim/66: 6). Pesan ini menunjukkan adanya tang­gung jawab setiap individu untuk mendidik keluarganya agar terhindari dari segala bentuk perilaku yang negatif, tidak bermanfaat atau perilaku yang dapat menimbulkan mudharat.

Orang yang paling ber­tanggung jawab dalam keluar­ga tentu kedua orang tua; ayah dan ibu. Dalam konteks pen­didikan antikorupsi ini, orang tua memiliki tanggung jawab penting dalam mendidik anak-anak dan keluarganya agar terhindar dari korupsi. Dalam hal ini, ada beberapa hal yang patut dilakukan.

Pertama, menyadari bahwa hasil korupsi akan meracuni rohaniah anak dan keluarga. Dalam mindset orang tua mesti terbentuk bahwa korupsi adalah pekerjaan haram. Jika korupsi yang dilakukan itu me­ng­hasilkan uang dan di­gunakan untuk memberi makan anak dan istri, sesungguhnya ia telah membentuk keluarga yang bermental buruk, rohaniahnya rusak, sulit menerima ke­benaran dan cenderung merasa senang dan nyaman melakukan hal-hal yang diharamkan. Te­gasnya mereka jauh dari hidayah Allah.

Mengenai dampak negatif makanan yang haram terhadap perkembangan psikologis anak, juga diceritakan oleh Hamka dalam tafsirnya, al-Azhar. Ia mengutip kisah Abu Muham­mad al-Juwaini, seorang per­muda yang taat beribadah kepada Allah dan sangat ber­hati-hati kepada suata perkara yang subhat. Suatu ketika ia menikahi seorang perempuan yang shalehah, taat beribadah kepada Allah SWT. Dari hasil pernikahan itu lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama Abdulmalik.

Setelah anak itu lahir, al-Juwaini berpesan sangat kepada istrinya jangan sampai ada perempuan lain yang me­nyusukan anak itu. Namun, suatu ketika istrinya sakit sehingga air susunya kering, sementara Abdilmalik yang masih bayi  itu menangis kehausan. Lalu datanglah tetangganya, seorang perem­puan yang merasa kasi­han mendengar tangisan anak itu. Perempuan itu pun mengambil dan menyusukan anak tersebut. Tiba-tiba datanglah Abu Mu­hammad al-Juwaini. Melihat anaknya disusui oleh perem­puan lain, dia pun tidak senang sehingga perempuan tersebut tahu diri dan bergegas pergi.

Kemudian al-Juwaini me­ngam­bil anak itu lalu me­nong­gengkan kepalanya dan me­ngorek mulutnya, sehingga anak itu memuntahkan air susu perempuan tetangga tadi. Beliau pun berkata: “Bagiku tidak keberatan jika anak ini mening­gal di waktu kecilnya, dari pada rusak perangainya karena me­minum susu perempuan lain, yang tidak aku kenal ke­taatannya kepada Allah.”

Anak yang bernama Ab­dulmalik itu kemudian terkenal dengan nama Imamul Haramain Abdulmalik al-Juwaini, ia adalah seorang ulama mazhab Syafi’i yang masyhur, pengikut teologi al-Asy’ari, guru dari madrasah-madrasah Naisabur dan salah seorang yang men­didik Imam al-Ghazali, sampai menjadi ulama besar pula. Kadang-kadang sedang me­ngajarkan ilmunya pernah beliau marah-marah. Ketika itu, berkatalah dia setelah sadar dari kemarahannya, bahwa “(marah) ini barangkali adalah dari bekas sisa susu perempuan lain itu, yang tidak sempat aku mun­tahkan.”

Hanya air susu dari seorang perempuan yang tak dikenal ketaatannya kepada Allah dapat berakibat mentalitas seseorang sulit mengendalikan emo­sionalnya, padahal orang ter­sebut telah menjadi ulama besar. Lalu bagaimana dengan men­talitas seorang anak yang di­besar­kan dengan hasil ko­rupsi? Dan al-Juwaini adalah prototype orang tua yang sadar bahaya makanan subhat, apalagi haram, terhadap perkembangan men­talitas anaknya.

Kedua, jangan mengukur segala sesuatu dengan materi. Orang tua mesti mengajarkan kepada anaknya bahwa yang materi bukanlah tujuan (goal), tetapi sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Namun, ter­kadang orang tua tidak sadar bahwa apa yang ia lakukan telah mengajarkan kepada anaknya bahwa materi meru­pa­kan tujuan dan indikator utama dalam mencapai kesuk­sesan. Misalnya, mem­berikan reward atau peng­hargaan kepada anak hanya dengan materi semata. Jika anak meraih prestasi, maka orang tuanya memberi imbalan berupa uang. Jika anak mau disuruh, juga diberi imbalan uang. Dan seterusnya. Akibatnya, psi­kologis anak akan terbentuk dengan “segala sesuatu diukur dengan uang”.

Boleh saja reward yang diberikan berupa materi. Namun mesti seimbang de­ngan mengoptimalkan spiri­tualitasnya. Imbalan tidak hanya berupa uang, tetapi bisa berupa pujian, ucapan yang menyenangkan, atau dengan cara berbagi dengan sesama; anak yatim, fakir miskin dan sebagainya.

Begitu pula dengan mem­berikan arti tentang sukses, janganlah diukur dengan materi semata. Ketika mem­bimbing anak untuk bercita-cita, jangan hanya karena besarnya jumlah uang yang dihasilkan dari apa yang dicita-citakan. Tetapi cita-cita tersebut dipilih karena diang­gap profesi itu banyak mem­beri manfaat bagi orang lain, berperan eksis di tengah masyarakat, hidup bernilai dan diridhai Allah SWT.

Ketiga, memberikan kete­ladan kepada keluarga. Orang tua mesti menjadi teladan bagi anak-anaknya untuk tegas mengatakan tidak pada korup­si. Orang tua senantiasa mem­berikan pemahaman kepada anaknya bahwa hidup yang bernilai bukanlah kemewahan, tetapi keteguhan hati dalam menjalankan nilai-nilai ke­benaran.

Selain itu, korupsi tidak saja dipahami dari segi materi seperti mengambil uang yang bukan haknya. Tetapi korupsi juga dapat terjadi pada waktu, atau korupsi waktu. Hidup disiplin, menghargai waktu dan mengisinya dengan kegiatan positif merupakan hal penting yang mesti diajarkan oleh orang tua kepada anak-anak­nya dengan penerapan, bukan teori semata.

Keempat, memberikan pemahaman kepada anak sejak dini bahwa korupsi adalah perbuatan tercela. Orang tua hendaknya menanamkan ke­ben­cian terhadap korupsi. Dalam suatu hadis dijelaskan bahwa ketika seorang sahabat bernama Kirkirah mati di medan perang, Rasulullah saw. bersabda: “dia masuk neraka”. Para sahabat pun bergegas pergi me­nye­lidiki perbekalan pe­rangnya. Mereka mendapatkan mantel yang ia korup dari harta rampasan perang. (H.R Bukhari dalam kitab Jihad wa al-sair). Demikian kerasnya kecaman Islam terhadap para koruptor.

Selain itu, untuk me­nanam­kan kebencian ter­hadap korup­si, orang tua perlu me­negaskan bahwa ke­banggaannya sebagai orang tua bukanlah karena anak-anaknya kelak menjadi orang kaya-raya, tetapi ke­banggaan yang sebenarnya adalah ketika menyaksikan anak-anaknya menjadi orang yang shaleh, teguh memegang prinsip kebenaran. Dengan begitu diharapkan mereka akan menjadi insan yang berprinsip, tidak mudah tergoda oleh pengaruh lingkungan yang rusak, termasuk korupsi yang seakan membudaya.

Terakhir orang tua juga hendaknya senantiasa berdoa kepada Allah agar anak dan keluarganya terhindar dari perbuatan-perbuatan maksiat, terutama perbuatan yang ter­kutuk, seperi korupsi ini. Doa Nabi Ibrahim as patut dicontoh oleh orang tua: rabbi habli minashshalihin, Ya Allah anugerahkanlah kepadaku anak yang shaleh”.

Dengan upaya dan doa seperti ini, insya Allah kita mampu melahirkan anak-anak yang anti terhadap korupsi. Mereka tetap istiqamah me­negakkan kebenaran dan me­me­rangi kebatilan. Insya Allah.

sumber: http://www.harianhaluan.com

Blog untuk Pendidikan

Blog dapat dikategorikan sebagai e-learning, dalam tulisannya Rosenberg (2001) beliau mengungkapkan bahwa e learning merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan.

Sebuah blog dapat dijadikan media belajar interaktif, misalnya sebuah komunitas guru di sebuah sekolahan rame-rame membuat blog yang isi atau konten sebuah blog menyangkut mata pelajaran yang di ampu masing-masing guru. Kemudian ada siswa yang mengakses blog tersebut, Si siswa mengisi comment di blog, sehingga terjadi komunikasi dalam sebuah blog tanpa di batasi sebuah protokoler antara guru dan murid.

Dalam hitungan saat ini jumlah mata pelajaran di sekolah tidak lebih dari 20 macam. Jadi jika setiap kabupaten ada guru yang aktif ngeblog untuk 1 fokus pelajaran tertentu maka pendidikan Indonesia dengan cepat majunya. Sebab isi blog bisa apa saja, bahkan akan sangat menggigit. Dan tidak akan keluar jalur, karena pengunjung blog bisa saja memberi kritiknya. Setidaknya Ini demi penghematan biaya yg harus dikeluarkan untuk kegiatan sosialisasi atau penataran2 yg kadang tidak ada ujung-nya.

Blog juga dapat menjadi media untuk mengungkapkan usul, komentar dan uneg-uneg seorang siswa tentang sistem pengajaran yang ada di sekolah, sehingga pihak guru dan sekolah dapat meningkatkan kinerja mereka sesuai yang diharapkan para peserta didik dalam hal ini adalah siswa sekolah.

Kekuatan blog dalam dunia pendidikan

· Isinya bisa luas menyangkut banyak hal pengajaran

· Bisa dijadikan ajang belajar menulis untuk menuangkan ide

· Bukti portofolio seorang guru terkait profesionalitasnya

· Relatif lebih hemat biaya

· Menembus ruang

· Bebas aturan alias suka-suka yg nulis (yg ada hanya etika atau aturan tidak tertulis)

· Melepaskan kebiasaan formalitas untuk menghambur uang rakyat

· Pengembangan proses pembelajaran yang bervariatif

Blog sangat mudah pengelolaannya dibandingkan website. Bahkan untuk di wordpress.com jika belum berpengalaman dapat membaca cara nge-blog. Ini mudah untuk diikuti. Dengan adanya software blog editor yang bisa dipakai secara offline maka waktu koneksi bisa dipersempit dan hemat biaya jika harus membayar rekening telepon. Dibutuhkan koneksi internet tidak lebih dari 1 jam jika tulisan sudah dipersiapkan secara offline.

Blog sebagai media informasi dan promosi sebuah institusi

Dengan semakin berkembangnya zaman maka media komunikasi juga semakin berkembang salah satunya yaitu blog. Jika dahulu mengiklankan sebuah produk perusahaan dengan mengguakan media cetak atau pamflet dan poster yang mengelurkan biaya banyak, maka sekarang promosi sebuah produk dapat menggunakan sebuah blog yang murah meriah dan gratis. Blog juga dapat di jadikan sebagai media promosi seorang penulis untuk memasarkan bukunya. Dengan blog seorang penulis buku dapat memberikan tulisan singkat atau resensi buku ang ditulisnya, sehingga para pembaca dapat tertarik untuk membeli buku tersebut .

Blog dapat disimpulkan sebagai media informasi baik yang bersifat formal

(sebuah institusi) atau informal (ajang tulis menulis kegiatan sehari-hari seorang blogger) yang bersifat murah meriah dan tidak memerlukan keahlian khusus untuk membuatnya misalnya keahlian HTML. Blog sangat mudah dibuat oleh seorang awam dalam dunia website.  Blog dapat dihias sesuai dengan keinginan pembuatnya misalnya dipercantik dengan hitcounter, lokasi dan IP address pengakses dan merubah background sesuai keinginan.

Tentang Pendidikan Karakter

 

Indonesia memerlukan sumberdaya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumberdaya manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting. Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang, termasuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) harus diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat (Ali Ibrahim Akbar, 2000), ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan.

Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.

Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.  Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah.

Terlepas dari berbagai kekurangan dalam praktik pendidikan di Indonesia, apabila dilihat dari standar nasional pendidikan yang menjadi acuan pengembangan kurikulum (KTSP), dan implementasi pembelajaran dan penilaian di sekolah, tujuan pendidikan di SMP sebenarnya dapat dicapai dengan baik. Pembinaan karakter juga termasuk dalam materi yang harus diajarkan dan dikuasai serta direalisasikan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Permasalahannya, pendidikan karakter di sekolah selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai, dan belum pada tingkatan internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter, Kementerian Pendidikan Nasional mengembangkan grand design pendidikan karakter untuk setiap jalur,  jenjang, dan jenis satuan pendidikan. Grand design menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan.  Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dikelompokan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development), Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik  (Physical and kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development). Pengembangan dan implementasi pendidikan karakter perlu dilakukan dengan mengacu pada grand design tersebut.

Menurut UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 13 Ayat 1 menyebutkan bahwa Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Pendidikan informal sesungguhnya memiliki peran dan kontribusi yang sangat besar dalam keberhasilan pendidikan. Peserta didik mengikuti pendidikan di sekolah hanya sekitar 7 jam per hari, atau kurang dari 30%. Selebihnya (70%), peserta didik berada dalam keluarga dan lingkungan sekitarnya. Jika dilihat dari aspek kuantitas waktu, pendidikan di sekolah berkontribusi hanya sebesar 30% terhadap hasil pendidikan peserta didik.

Selama ini, pendidikan informal terutama dalam lingkungan keluarga belum memberikan kontribusi berarti dalam mendukung pencapaian kompetensi dan pembentukan karakter peserta didik. Kesibukan dan aktivitas kerja orang tua yang relatif  tinggi, kurangnya pemahaman orang tua dalam mendidik anak di lingkungan keluarga, pengaruh pergaulan di lingkungan sekitar, dan pengaruh media elektronik ditengarai bisa berpengaruh negatif terhadap perkembangan dan pencapaian hasil belajar peserta didik. Salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui pendidikan karakter terpadu, yaitu memadukan dan mengoptimalkan kegiatan pendidikan informal lingkungan keluarga dengan pendidikan formal di sekolah. Dalam hal ini, waktu belajar peserta didik di sekolah perlu dioptimalkan agar peningkatan mutu hasil belajar dapat dicapai, terutama dalam pembentukan karakter peserta didik .

Pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat.

Kegiatan ekstra kurikuler yang selama ini diselenggarakan sekolah merupakan salah satu media yang potensial untuk pembinaan karakter dan peningkatan mutu akademik peserta didik. Kegiatan Ekstra Kurikuler merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah. Melalui kegiatan ekstra kurikuler diharapkan dapat mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial, serta potensi dan prestasi peserta didik.

Pendidikan karakter di sekolah juga sangat terkait dengan manajemen atau pengelolaan sekolah. Pengelolaan yang dimaksud adalah bagaimana pendidikan karakter direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah secara memadai. Pengelolaan tersebut antara lain meliputi, nilai-nilai yang perlu ditanamkan, muatan kurikulum, pembelajaran, penilaian, pendidik dan tenaga kependidikan, dan komponen terkait lainnya. Dengan demikian, manajemen sekolah merupakan salah satu media yang efektif dalam pendidikan karakter di sekolah.

Menurut Mochtar Buchori (2007), pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata. Permasalahan pendidikan karakter yang selama ini ada di SMP perlu segera dikaji, dan dicari altenatif-alternatif solusinya, serta perlu dikembangkannya secara lebih operasional sehingga mudah diimplementasikan di sekolah.

Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik SMP mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.

Pendidikan  karakter pada tingkatan institusi mengarah pada pembentukan budaya sekolah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di mata masyarakat luas.

Sasaran pendidikan karakter adalah seluruh Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Indonesia negeri maupun swasta.  Semua warga sekolah, meliputi para peserta didik, guru, karyawan administrasi, dan pimpinan sekolah menjadi sasaran program ini. Sekolah-sekolah yang selama ini telah berhasil melaksanakan pendidikan karakter dengan baik dijadikan sebagai best practices, yang menjadi contoh untuk disebarluaskan ke sekolah-sekolah lainnya.

Melalui program ini diharapkan lulusan SMP memiliki keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkarakter mulia, kompetensi akademik yang utuh dan terpadu, sekaligus memiliki kepribadian yang baik sesuai norma-norma dan budaya Indonesia. Pada tataran yang lebih luas, pendidikan karakter nantinya diharapkan menjadi budaya sekolah.

Keberhasilan program pendidikan karakter dapat diketahui melalui pencapaian indikator oleh peserta didik sebagaimana tercantum dalam Standar Kompetensi Lulusan SMP, yang antara lain meliputi sebagai berikut:

  1. Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja;
  2. Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri;
  3. Menunjukkan sikap percaya diri;
  4. Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas;
  5. Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup nasional;
  6. Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secara logis, kritis, dan kreatif;
  7. Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif;
  8. Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya;
  9. Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari;
  10. Mendeskripsikan gejala alam dan sosial;
  11. Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab;
  12. Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam negara kesatuan Republik Indonesia;
  13. Menghargai karya seni dan budaya nasional;
  14. Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya;
  15. Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang dengan baik;
  16. Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun;
  17. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat; Menghargai adanya perbedaan pendapat;
  18. Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana;
  19. Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sederhana;
  20. Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah;
  21. Memiliki jiwa kewirausahaan.

Pada tataran sekolah, kriteria pencapaian pendidikan  karakter adalah terbentuknya budaya sekolah, yaitu perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah harus berlandaskan nilai-nilai tersebut.

Mitos-mitos Seputar Homeschooling

>> Siswa homeschooling tidak bersosialisasi.
Sosialisasi dalam homeschooling adalah keberatan yang paling sering diajukan dan selalu ditanyakan pertama kali, padahal ini yang paling mudah dibantah. Mitos ini muncul dari ketidaktahuan tentang kegiatan homeschooling sebenarnya. Banyak orang berasumsi bahwa dalam homeschooling anak tidak keluar dari rumah dan hanya belajar sendiri atau berdua orang tuanya mulai dari pagi sampai sore. Kalau seperti itu ya pasti si anak jadi kuper. Pada kenyataannya, siswa homeschooling lebih sering mengadakan studi lapangan kapan pun mereka mau. Saat waktunya belajar sejarah, mereka pergi ke museum dan berinteraksi dengan komunitas pecinta sejarah. Ingin belajar bisnis? Sambil makan di McDonald’s dan berbincang dengan manajernya dan para karyawannya saja.  Kalau olahraga atau musik? Ikut klub donk… atau urunan menyewa guru privat bersama para homeschooler lain. Siswa sekolah formal berinteraksi hanya dengan teman-teman yang seusia dan dikumpulkan dalam satu kelas seharian. Kalau siswa homeschooling? Dengan banyak orang dari segala lapisan usia dan pekerjaan! Banyak riset yang membuktikan bahwa siswa homeschooling dapat bersosialisasi sebaik, atau bahkan lebih baik, dari para sebayanya di sekolah formal, dan mereka menunjukkan lebih sedikit masalah perilaku pula.

>> Siswa homeschooling tidak punya teman.
Mirip dengan mitos pertama, mitos yang satu ini berasumsi bahwa rekan sebaya siswa homeschooling yang bersekolah formal memiliki banyak teman sedangkan mereka tidak. Ok, coba kita jujur dulu dalam melihat fakta. Yang bisa didapat seorang anak dari “pertemanan” di lingkungan sekolah formal sebenarnya lebih banyak berupa “peer pressure”. Anak-anak ini saling memberi tekanan agar mereka bisa menjadi sama antara satu dengan yang lain. Silahkan baca blog post yang berjudul “Akhir Masa Kanak-kanak” untuk penjelasan mengenai pemanfaatan peer pressure dalam sistem pendidian untuk membentuk manusia-manusia seragam yang mudah dikendalikan. Seseorang bertanya pada orang tua homeschooler, “Anak-anakmu tidak punya teman dan tidak bisa belajar dari anak-anak sebayanya.” Orang tua homeschooler ini pun menjawab, “Coba kamu pergi ke sekolah formal saat siswanya beristirahat, perhatikan mereka, dan tunjukkan padaku, sifat-sifat mana dari mereka yang pantas ditiru anakku.” Benar juga. Lalu orang tua ini ditanya lagi, “Tapi anakmu tidak akan belajar berkompetisi seperti kalau di sekolah formal.” Ia pun menjawab lagi, “Anakku tidak berkompetisi dengan orang lain, namun ia berkompetisi dengan target performa yang ditetapkannya sendiri. Kalau dengan orang lain, ia berkolaborasi.” Lagi-lagi jawaban tepat. Sungguh tidak rugi siswa homeschooling kehilangan “pertemanan” dalam lingkungan sekolah formal bila pada kenyataannya ia bisa berteman dengan teman-teman dari klub olahraga, remaja masjid, paduan suara gereja, kelas musik. Ia pun bisa berteman dengan orang-orang dari segala lapisan usia dan pekerjaan seperti staff museum, manajer restoran, dan lainnya.

>> Homeschooling sangat mahal.
Jelas masalah uang adalah pertanyaan berikutnya yang muncul setelah pertanyaan pertama bisa dijawab dengan mudah. Sebenarnya mungkin ini adalah pertanyaan terpenting bagi banyak orang, hanya gengsi saja kalau ditanyakan pertama. J Faktanya, homeschooling bisa mahal dan bisa murah. Banyak artis dan anak dari kalangan orang tua berada yang bisa menyewa guru-guru privat dan alat-alat pembelajaran yang mahal buat belajar di rumah (walaupun ini sebenarnya cuma memindah sekolah ke rumah, bukan homeschooling murni). Namun ada juga para orang tua yang membentuk komunitas homeschooling bagi anak-anaknya dan berbagi biaya. Malah di daerah Pasar Minggu ada komunitas homeschooling buat anak orang miskin. Masalah biaya sangat tergantung dari bujet dan kreativitas orang tua serta komunitas. Yang jelas, value for money dari homeschooling seharusnya lebih tinggi daripada mengeluarkan biaya untuk sekolah formal.

>>  Siswa homeschooling pemalu dan tidak pernah keluar rumah.
Ok, ini sebenarnya sudah terjawab di mitos pertama. Soal pemalu, jelas tergantung dari si anak. Di sekolah formal pun ada anak pemalu. Sedangkan masalah tidak pernah keluar rumah, pada dasarnya ini salah. Bagi siswa homeschooling seluruh dunia ini adalah ruang kelas. Proses belajar bisa dilakukan di mana pun dan kepada siapa pun. Tidak seperti rekan-rekannya di sekolah formal yang “didatangi” oleh guru, siswa homeschooling terbiasa “keluar dan mencari jawaban”. Mereka akan pergi ke museum, kebun binatang, restoran, tetangga, bahkan ke mall dengan tujuan untuk belajar. Mereka akan berinteraksi dengan banyak kalangan dari berbagai usia dan pekerjaan, dan mereka akan banyak bertanya dan tidak menunggu diterangkan. Saya pernah mendengar tentang anak homeschooling yang masuk universitas negeri dan terheran-heran dengan sikap teman-temannya yang sangat jarang mengajukan pertanyaan di kelas sedangkan ia sendiri sudah biasa bertanya. Tunggu dulu, apa saya tidak salah tulis nih? Apa benar ada anak homeschooling masuk universitas negeri? Silahkan lanjutkan ke mitos berikutnya.

>> Siswa homeschooling tidak bisa masuk perguruan tinggi.
Mitos yang dulu bisa jadi benar. Salah satu yang membuat homeschooling kurang berkembang di Indonesia adalah dukungan pemerintah. Tapi itu dahulu, saat ini pemerintah sudah mulai gencar mendorong perkembangan pendidikan alternatif. (Sekaligus sebagai penegasan bahwa saya bukan oposisi buta yang asal menganggap semua yang dilakukan pemerintah itu buruk.) Masuk perguruan tinggi bisa dilakukan oleh siswa homeschooling yang telah mengikuti ujian persamaan Paket C. Sudah banyak siswa homeschooling yang masuk ke perguruan tinggi. Di Inggris, rata-rata siswa komunitas homeschooling yang melanjutkan ke perguruan tinggi tiga kali lebih besar daripada siswa sekolah formal. Bukan hanya masuk perguruan tinggi, siswa homeschooling bahkan bisa masuk ke sekolah dasar maupun sekolah menengah formal di tingkat mana pun mereka mau. Model ini dinamakan multiple entries and multiple exits. Tentu ada prosedur-prosedur yang harus dilewati. Siswa homeschooling juga bisa bekerja sama dengan sekolah formal untuk menjadi “siswa paruh waktu” di sekolah tersebut. Misalnya, pada hari Senin sampai Rabu ia homeschooling, dan pada hari Kamis dan Jumat ia ikut bersekolah di sekolah formal dekat rumahnya. Ya, ini semua sudah dimungkinkan di Indonesia. Tinggal kembali kepada orang tua untuk melihat semua opsi yang ada dan memilih yang terbaik untuk anaknya.

>> Orang tua homeschooler harus memiliki sertifikat pengajar.
Banyak orang tua yang takut memilih homeschooling bagi anaknya karena merasa tidak bisa menjadi pengajar yang baik, walaupun sebenarnya mereka telah mengajari anaknya banyak hal setiap harinya saat membesarkan mereka. Namun memang tidak perlu kita menjadi pengajar yang ahli untuk membantu pendidikan anak. Banyak opsi yang bisa dipilih oleh orang tua yang merasa tidak bisa mengajar, seperti memilih kurikulum yang sudah disesuaikan dengan gaya belajar anak dan gaya mengajar dan preferensi keterlibatan orang tua. Anak-anak homeschooler juga bisa dikumpulkan dalam suatu komunitas untuk disewakan guru privat bersama untuk subjek tertentu. Seringkali orang tua malah cukup menjadi pendamping bagi anaknya, sedangkan anaknya bisa mengajari dirinya sendiri dengan berbagai sumber pembelajaran yang bertebaran di internet, perpustakaan, telekursus, dan lainnya. Orang tua juga bisa mencari manual bagi orang tua homeschooler dalam mendidik anak-anaknya.

>> Siswa homeschooling tidak mendapat kegiatan ekstrakurikuler yang cukup.
Salah besar! Homeschooling adalah metode pendidikan yang sangat efisien. Proses pembelajaran yang dilakukan selama beberapa jam pada homeschooling bisa lebih produktif daripada waktu yang sama di sekolah formal. Artinya, siswa homeschooling akan memiliki lebih banyak waktu untuk menyalurkan hobi, mengembangkan bakatnya dan melakukan hal-hal lain yang mereka suka. Mereka bisa mengikuti kegiatan musik dan olahraga dengan mengikuti klub di mana mereka akan bermain dengan kelompok yang lebih kecil. Di sekolah, dengan kelompok yang besar, tiap siswa hanya akan mendapat sedikit latihan olahraga dan musik. Sebagian besar waktunya akan digunakan untuk menunggu giliran.

>> Tidak ada laboratorium pengetahuan alam di rumah siswa homeschooling.
Tapi beberapa komunitas homeschooling punya. Orang tua juga bisa menyewa peralatan percobaan ilmiah. Yang lebih baik lagi adalah bila orang tua menggunakan kreativitas dalam membantu anak melakukan percobaan ilmiah. Kebanyakan percobaan ilmiah bisa dilakukan dengan peralatan dan bahan-bahan sederhana yang bisa didapat di rumah atau di pasar/supermarket.

>> Saya hanya bisa mendampingi satu anak belajar dalam satu waktu.
Mulai pelan-pelan saja. Seiring berjalannya waktu kita akan semakin terbiasa mendampingi anak yang lebih tua memulai proses belajarnya terlebih dahulu, baru kemudian mendampingi yang lebih muda saat yang lebih tua melanjutkan sendiri. Bisa juga kakak diminta mendampingi adiknya, atau salah satu anak melakukan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci dan lainnya saat Ibu mendampingi anaknya yang lain belajar. Oh ya, Bapak juga harus aktif membantu. Bisa juga minta bantuan nenek, tante, dan lainnya. Orang tua harus menentukan dan mengawasi proses homeschooling, tapi pelaksanaannya bisa berbagi. Homeschooling itu memang kerja tim dan butuh waktu untuk membentuk tim yang solid dan saling mengerti.

>> Kedua orang tua harus bekerja.
Yakin? Harus atau mau? Coba cek dulu, untuk uang dari second income itu dipakai? Untuk jasa baby sitter untuk anak? Untuk baju kerja? Untuk makan ke luar karena tidak ada yang sempat menyiapkan makanan di rumah? Bukankah ini pengeluaran yang bisa dihilangkan saat salah satu tidak bekerja? Ada juga kasus di mana single parent bisa sukses melakukan homeschooling dengan cara mengatur jadwal kerja secara kreatif atau malah bekerja dari rumah (apalagi di era dengan kemajuan teknologi seperti sekarang). Bisa juga orang tua minta bantuan saudara seperti nenek atau tante. Asal kurikulum dan pengawasan tetap ada di orang tua. Coba dipikir kembali.

>> Saya tidak bisa berlama-lama dekat dengan anak saya.
Dulu kok mau ya bikinnya? He he. Tapi sejujurnya, ini adalah masalah serius. Kalau kita tidak bisa dekat dengan anak kita sendiri, pasti ada yang salah dan harus diselesaikan. Cari konseling kalau diperlukan.

Mitos-mitos homeschooling terbentuk karena sudah begitu dalamnya kita dicuci otak bahwa satu-satunya pendidikan bermutu yang menjamin kesuksesan anak adalah sekolah formal, serta kurangnya sosialisasi dari pemerintah dan komunitas homeschooling itu sendiri. Seiring bermunculannya sekolah-sekolah alternatif, masyarakat mulai terbuka dan bertanya-tanya tentang pendidikan yang terbaik bagi anaknya. Pendidikan formal tidak lagi dianggap dewa (salah mereka sendiri juga sih), tetapi masih banyak yang harus diperjuangkan bagi pendidikan alternatif yang juga tidak sempurna. Intinya, dengan semakin banyak pilihan metode pendidikan, pilih yang terbaik bagi anak-anak kita.***

 

Sumber: http://www.bincangedukasi.com

100% Jujur dalam UN 2012

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mewajibkan semua peserta ujian nasional (UN) 2012 membuat pernyataan kejujuran.
Melalui kebijakan ini,Kemendikbud berharap pelaksanaan UN berjalan dengan bersih dan jujur. Penandatanganan pernyataan kejujuran tersebut merupakan salah satu dari prosedur operasi standar UN 2012. Pada pelaksanaan UN 2012 memang berbeda dengan gelaran sebelumnya. Mereka (para peserta) harus menjunjung tinggi kejujuran dan berjanji tidak melakukan kecurangan selama mengikuti UN.

Secara teknis, penandatanganan pernyataan kejujuran akan dilakukan para peserta pada lembar jawaban soal. Ini sebagai bentuk komitmen bersama menjunjung tinggi kejujuran selama UN berlangsung. Penandatanganannya tidak memakai meterai. Tak hanya peserta UN,para pengawas juga akan diminta menandatangani pernyataan kejujuran pada pelaksanaan UN. Penekanan pada aspek kejujuran ini merupakan salah satu hasil evaluasi pemerintah terhadap UN sebelumnya.

Peserta yang kedapatan mengingkari pernyataan yang sudah ditandatangani dengan berbuat tidak jujur akan diberikan sanksi tegas. Sesuai aturan, sanksi terberat bisa dinyatakan tidak lulus. Diharapkan semua pihak menjunjung tinggi kejujuran agar hasil UN kredibell. Sesuai jadwal, UN 2012 akan dimulai mulai pada 16 April untuk jenjang SMA/MA dan SMK, 23 April untuk jenjang SMP/MTs/SMPLB, dan 7 Mei untuk SD/MI/SDLB.
Sumber : http://www.seputar-indonesia.com

Jenis-jenis Beasiswa

KOMPAS.com – Berburu beasiswa, tak cukup hanya mencari informasi. Mengenal jenis-jenis beasiswa juga penting dilakukan untuk menemukan, beasiswa mana yang pas untuk karakter dan keunggulan yang kita miliki. Sehingga, peluang untuk mendapatkannya pun akan lebih besar.

Saat ini, banyak jenis beasiswa yang dapat diburu, sesuai dengan rentang waktu, jumlah, dan lokasi beasiswa tersebut. Beberapa universitas umumnya memberikan beasiswa sebelum perkuliahan dimulai. Ada juga beasiswa prestasi yang berbasis pada kecakapan akademik, budaya, dan lain sebagainya.

Cara terbaik untuk mencari beasiswa adalah dengan mempelajari jenis-jenis beasiswa yang ada. Setiap pendonor beasiswa tentunya memiliki daya tarik dan aturan sendiri terkait beasiswa yang diberikan. Ketika Anda mempelajari beasiswa-beasiswa yang ada, tentunya Anda harus mengetahui berapa banyak, dan alasan dibalik beasiswa tersebut.

Berikut adalah beberapa jenis beasiswa:

Beasiswa Penghargaan
Beasiswa ini biasanya diberikan kepada kandidat yang memiliki keunggulan akademik. Beasiswa ini diberikan berdasarkan prestasi akademik mereka secara keseluruhan. Misalnya, dalam bentuk Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Meski sangat kompetitif, beasiswa ini ada dalam berbagai bentuk.

Beasiswa Bantuan

Jenis beasiswa ini adalah untuk mendanai kegiatan akademik para mahasiswa yang kurang beruntung, tetapi memiliki prestasi. Komite beasiswa biasanya memberikan beberapa penilaian pada kesulitan ini, misalnya, seperti pendapatan orangtua, jumlah saudara kandung yang sama-sama tengah menempuh studi, pengeluaran, biaya hidup, dan lain-lain.

Beasiswa Atletik
Universitas biasanya merekrut atlet populer untuk diberikan beasiswa dan dijadikan tim atletik perguruan tinggi mereka. Banyak atlet menyelesaikan pendidikan mereka secara gratis, tetapi membayarnya dengan prestasi olahraga. Beasiswa seperti ini biasanya tidak perlu dikejar, karena akan diberikan keada mereka yang memiliki prestasi.

Beasiswa Penuh
Banyak orang menilai bahwa beasiswa diberikan kepada penerimanya untuk menutupi keperluan akademik secara keseluruhan. Jika Anda benar-benar beruntung, tentunya Anda akan mendapatkan beasiwa seperti ini. Beasiswa akan diberikan untuk menutupi kebutuhan hidup, buku, dan biaya pendidikan. Namun, banyak beasiswa lainnya meng-cover biaya hidup, buku, atau sebagian dari uang sekolah.

Apapun jenis beasiswanya, Anda perlu benar-benar mempelajarinya. Jika sudah mendapatkannya, maka manfaatkan sebaik-baiknya! Selamat mencoba!